Monday, October 2, 2017

Museum Jendral Besar DR. A.H. Nasution


Masih dalam rangka Hari Kesaktian Pancasila, beberapa waktu yang lalu kita sudah membahas mengenai Sasmitaloka Ahmad Yani sekarang kita membahas menganai Museum Jendral Besar DR.  Abdul Haris Nasution (Disingkat A.H. Nasution). Sama seperti Sasmitaloka Ahmad Yani, museum yang terletak di Jalan Teuku Umar No. 40 ini juga menjadi saksi bisu kekejaman dari gerombolan G.30S/PKI.


Patung Jendral A.H. Nasution
Sejarah Singkat


Sebelum menjadi museum, Rumah ini sebelumnya merupakan kediaman pribadi dari Jendral A.H Nasution sejak beliau menjabat sebagai KSAD (Kepala Staff TNI Angkatan Darat) hingga wafatnya beliau pada tanggal 6 September tahun 2000. Selanjutnya pihak keluarga pindah rumah & merenovasi rumah tersebut walaupun ada beberapa bagian yang tetap di pertahankan keasliannya. Setelah di renovasi, bertepatan dengan lahirnya Jendral A.H. Nasution (3 Desember 2008) rumah tersebut  dijadikan museum & diresmikan menjadi oleh Presiden Indonesia saat itu Bapak Susilo bambang Yudhoyono.

Di rumah inilah juga terjadi sebuah peristiwa yang tragis yang hampir merengut nyawa sang jendral. Pada malam 1 Oktober 1965 gerombolan G.30S/PKI berupaya menculik & membunuh beliau, namun hal itu gagal dilakukan. Sayangnya peristiwa tersebut merenggut nyawa putri beliau Ade Irma Suryani yang tidak sengaja tertembak dan ajudan beliau Kapten Piere Andreas Tendean yang ditangkap oleh para gerombolan penculik karena mengira dirinya adalah sang jendral dan akhirnya tewas di Lubang Buaya bersama para 6 Pahlawan Revolusi lainnya.

Inside The Museum

Ruangan pertama yang dikunjungi pertama kali oleh Traveler adalah Ruang Tamu. Di ruangan inilah biasanya Jendral A.H. Nasution menerima tamu-tamunya. Di ruangan ini terdapat berbagai macam koleksi seperti meja & kursi tamu, patung dada Jendral A.H. Nasution, beberapa foto kenangan dan berbagai macam koleksi cinderamata seperti miniatur meriam & tank, beberapa plakat penghargaan dan gading gajah kenang-kenangan dari brigade Garuda III.

Ruang Tamu
Patung Dada Jendral A.H. Nasution
Meja-kursi ruang tamu
Meja-kursi ruang tamu










Gading gajah kenang-kenangan dari Brigade Garuda III
Dari ruang tamu, ruangan berikutnya adalah Ruangan Kerja. D ruangan inilah tempat dimana Jendral A.H. Nasution menjalankan tugasnya sebagai Staff TNI Angkatan Darat. Di ruangan ini terdapat berbagai macam koleksi buku-buku milik Jendral A.H. Nasution, meja-kursi & manekin bapak ketika bekerja, foto kenang-kenangan dan beberapa piagam penghargaan.

Ruang Kerja
Piagam dari Universitas Islam Sumut
Piagam dari Universitas Negeri Padang












koleksi buku-buku karya Jendral A.H. Nasution
Dari ruang kerja, ruangan berikutnya adalah Ruang Tamu VIP. Di ruangan inilah biasanya Jendral A.H. Nasution menerima beberapa tamu pentingnya. Sama seperti ruang tamu depan, di ruangan ini juga terdapat berbagai macam koleksi seperti beberapa meja & kursi, benda kenang-kenangan & koleksi foto.

Meja-kursi ruang tamu VIP
Sambil menuju ruangan berikutnya, Traveler akan melihat beberapa manekin Tjakrabirawa. Manekin ini memperlihatkan diorama peristiwa pada saat terjadinya penculikan di malam 1 Oktober. Di sepanjang jalan juga terdapat berbagai macam foto-foto Jendral A.H. Nasution pada saat masih bertugas.

Hall Rumah
Manekin pengrebekan oleh Tjakrabirawa
Ruangan berikutnya adalah Ruang tidur. Di ruangan inilah terjadinya peristiwa tragis dimana Ade Irma Suryani Nasution putri dari Jendral A.H. Nasution tertembak oleh gerombolan penculik yang memaksa masuk ke kamar tidur jendral. Ini bisa dilihat dari adanya bekas lubang peluru yang terdapat di pintu masuk kamar & meja kecil yang ada di dalam kamar. Adapun koleksi yang ada di ruangan ini seperti tempat tidur asli, foto-foto kenangan, lemari pakaian yang berisi pakaian Jendral A.H. Nasution, koleksi sepatu dan kursi-meja yang terdapat bekas peluru serta manekin Jendral A.H. Nasution yang menggambarkan beliau pada saat terjadinya peristiwa penculikan.

Ruang Tidur

Lemari Pakaian

Lemari Sepatu















Kursi & meja yang ada bekas peluru
Pintu kamar dengan bekas peluru
Dari ruang berikutnya Ruang Gamad (Seragam Angkatan Darat). Sesuai dengan namanya, ruangan ini menyimpan berbagai macam koleksi seragam angkatan darat yang pernah digunakan oleh Jendral A.H. Nasution dan beberapa koleksi tongkat komando yang pernah beliau gunakan. Di ruangan ini juga terdapat manekin diorama pada saat Jendral A.H. Nasution melarikan diri dari para penculik dengan memanjat tembok rumah sambil melihat ke sang istri (Johanna Sunarti nasution) & anaknya yang terkena tembak.

Ruang Gamad
Seragam Jendral A.H. Nasution
Seragam Jendral A.H. Nasution










Koleksi tongkat komando
Manekin diorama Jendral A.H. Nasution melarikan diri 
Dari ruangan gamad, ruangan berikutnya adalah Ruang Senjata. Sesuai dengan namanya, ruangan ini menyimpan berbagai macam koleksi senjata mulai dari senjata tradisional kenang-kenangan dari berbagai daerah Indonesia, senjata api koleksi Jendral A.H. Nasution dan senjata yang digunakan oleh para penculik untuk menembak Ade Irma Suryani.

Ruang Senjata
Koleksi senjata daerah
Koleksi senjata api











Senjata yang digunakan untuk menembak Ade Irma
Dari ruang senjata, ruangan berikutnya adalah Ruang Ade Irma. Sesuai dengan namanya ruangan ini berisi berbagai macam barang-barang yang dimiliki oleh Ade Irma Suryani. Selain barang-barang pribadi, di ruangan ini terdapat dipan & tongkat yang pernah digunakan untuk merawat Jendral A.H. Nasution, baju & cruk yang digunakan Jendral A.H. Nasution untuk melepas jenazah Pahlawan Revolusi dan beberapa pakaian milik jendral A.H. Nasution & juga Ade Irma Suryani. Di ruangan ini juga terdapat foto terakhir Ade Irma Suryani bersama dengan Piere Tendean.

Ruang Ade Irma

Seragam Ade Irma
Pakaian milik Jendral A.H. Nasution










Dipan & tongkat
Lukisan Ade Irma Suryani
Dari ruangan ade irma, ruangan berikutnya adalah Ruang Makan. Di ruangan inilah ibu Nasution bertemu dengan para penculik sambil mengendong anaknya yang berlumuran darah akibat tertembak oleh gerombolan penculik. Ini bisa dilihat dari diorama manekin yang memperlihatkan sosok ibu nasution mengendong Ade Irma Suryani yang berlumuran darah sedang bertemu dengan para penculik yang menodongkan senjata ke arahnya sambil menanyakan keberadaan Jendral A.H. Nasution. Koleksi yang ada di ruangan ini diantaranya meja makan keluarga, beberapa koleksi plakat, koleksi cawan & cangkir, koleksi piring makan, lukisan dan beberapa pernak-pernik lainnya.

Ruang Makan
Meja makan keluarga
Lukisan Perang
Dari ruang makan, ruangan berikutnya adalah Ruang Heraldika (Tanda Jasa & Tanda Pangkat). Seusai dengan namanya ruangan ini berisi berbagai macam koleksi Tanda Jasa & Tanda Pangkat yang pernah diterima oleh Jendral A.H. Nasution.

Koleksi Tanda Jasa Jendral A.H. Nasution
Koleksi Tanda Jasa

Koleksi Tanda Jasa















Dari ruang heraldika, kita menuju halaman belakang rumah. Di halaman belakang rumah terdapat mobil dinas milik Jendral A.H. Nasution yang digunakan selama beliau menjabat. Diarah pintu keluar, Traveler bisa melihat lukisan relief perjalanan hidup Jendral A.H. Nasution mulai dari kecil hingga beliau wafat.

Halaman belakang & mobil dinas Jendral A.H. Nasution
Relief perjalanan hidup Jendral A.H. Nasution
Dari halaman belakang, Traveler bisa melihat sebuah rumah kecil yang ada di depan museum. Rumah ini dulunya merupakan rumah tempat tinggal dari para ajudan Jendral A.H. Nasution. Dirumah ini pula lah Kapten Piere Andreas Tendean ditangkap oleh gerombolan penculik yang mengira dirinya adalah Jendral A.H. Nasution. Sekarang rumah ini menjadi tempat diorama "Penculikan Piere Tendean".

Rumah Ajudan
Diorama tertangkapnya Piere Tendean
Di sebelah rumah ini terdapat ruangan kecil yang bernama Ruangan Diorama. Di ruangan ini, Traveler bisa melihat perjalanan karir militer dari Jendral A.H. Nasution mulai dari peristiwa Bandung Lautan Api, Hijrah Siliwangi, Agresi Milter Belanda ke 2 dan Sidang MPRS.

Ruang Diorama

Jam Buka & Harga Tiket


Museum ini buka dari jam 08.00 - 16.00 & sama seperti museum lainnya di Jakarta setiap hari senin & hari libur nasional tutup. Masuk Museum ini tidak mengenakan biaya alias gratis

Akses menuju ke sana

Akses paling mudah ke museum ini adalah dengan mengunakan kereta KRL Commuter Line. Traveler turun di stasiun Gondangdia, dari sini Traveler bisa berjalan kaki menyusuri Jalan Teuku Umar. Kalau menurut saya lokasi Museum tidak terlalu jauh dari Stasiun gondangdia & suasana Jalan Teuku Umar juga sangat sejuk karena dikelilingi pohon yang besar. Tapi kalau Traveler tidak suka jalan kaki, Traveler bisa menggunakan Jasa Ojek Online yang ada disekitaran stasiun.

"Jika keadilan tidak dijamin. Maka, siapa saja bisa mengacau. Ini adalah Manifestasi dari ketidakadilan." (Jendral Abdul Haris Nasution 1997) 

Saturday, September 30, 2017

Museum Sasmitaloka Jendral Ahmad yani


Kalau dahulu saya pernah membahas mengenai Monumen Pancasila Sakti & bertepatan pula dengan moment peringatan Gerakan 30 September dan Hari Kesaktian Pancasila, Maka kali ini saya akan membahas mengenai sebuah tempat yang ada hubungannya dengan peristiwa Gerakan 30 September atau lebih kita kenal dengan nama G.30S/PKI. Tempat tersebut tidak lain adalah Rumah kediaman dari Pahlawan Revolusi Jendral Ahmad Yani yang sekarang beralih fungsi menjadi Museum. Rumah yang terletak di Jalan Lembang No. D58 Jakarta Pusat ini menjadi saksi bisu dari kekejaman dari gerombolan PKI.   

Patung Jendral Ahmad Yani

Sejarah Singkat

Sebelum menjadi museum, bangunan itu merupakan tempat tinggal pribadi keluarga Ahmad Yani di saat-saat terakhir hayatnya menjabat sebagai Menteri/Panglima TNI Angkatan Darat, rumah tersebut ditempati semenjak beliau masih berpangkat Letnan Kolonel Infanteri.

Pendirian Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani, terkandung makna sebagai tempat di mana semangat juang, jasa dan pengabdian Jendral Ahmad Yani dan para Pahlawan Revolusi lainnya diabadikan. Baik semangat juang dan pengabdian terhadap bangsa dan negara, maupun dalam pengabdian membela, mempertahankan serta menegakkan Pancasila dan UUD 1945, terutama terhadap usaha-usaha PKI yang hendak mengkomuniskan Indonesia.

Inside The Museum

Ruangan pertama yang Traveler kunjungi adalah Ruangan Dokumentasi. Sebelum menjadi Ruangan Dokumentasi, ruangan ini dulunya merupakan ruang belakang keluarga yang biasanya di ruangan ini para pengawal Jendral Ahmad Yani beristirahat & di ruangan ini lah pertama kali Jendral Ahmad Yani bertemu dengan para penculik beliau. Di ruangan ini, Traveler bisa melihat berbagai macam dokumentasi foto-foto sewaktu Jendral Ahmad Yani masih berdinas seperti pada saat penyerahan kota magelang dari belanda kepada Indonesia, foto inspeksi pasukan Kodam VI/Siliwangi dan saat melakukan kunjungan kerja ke Rusia. Di ruangan ini juga terdapat foto-foto kronologis penculikan Jendral Ahmad Yani yang diambil dari cuplikan film "Penumpasan Penghianatan G30S/PKI", foto setelah kejadian, foto penggalian jenazah Pahlawan Revolusi dan pemakaman para Pahlawan Revolusi di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Ruang Dokumentasi

Foto dinas Jendral Ahmad Yani
Foto kronologi penculikan Jendral

Foto jenazah Pahlawan Revolusi setalah diangkat dari sumur
Foto pemakaman Pahlawan Revolusi
Tidak jauh dari Ruangan Dokumentasi terdapat ruangan kecil yang bernama Ruangan Pahlawan Revolusi. Di ruangan ini terdapat benda-benda koleksi para Pahlawan Revolusi, seperti baju seragam dinas dan beberapa barang pribadi milik Pahlawan Revolusi lainnya.

Ruang Pahlawan Revolusi
Barang pribadi para Pahlawan Revolusi
Sebelum masuk ke ruangan berikutnya, Traveler akan melihat sebuah pintu yang kacanya berlubang akibat peluru. Di pintu ini lah Jendral Ahmad Yani ditembak oleh para gerombolan penculik akibat beliau menolak dijemput paksa & memukul salah seorang penculik yang berbuat kasar tehadap beliau.

Pintu kaca
Ruangan berikutnya adalah Ruang Makan Keluarga. Di ruangan ini terbagi menjadi 2 bagian yaitu ruang makan keluarga & ruang mini bar tempat menjamu tamu-tamu asing yang berkunjung. Adapun beberapa koleksi yang ada di ruangan ini seperti meja & kursi makan, beberapa koleksi cangkir & gelas, kursi yang biasa digunakan Jendral Ahmad Yani untuk bersantai, televisi, foto para Pahlawan Revolusi, piagam-piagam penghargaan yang pernah diterima beliau & beberapa lukisan. Di ruangan ini pula Jendral Ahmad Yani tertembak & terjatuh sesaat setelah di tembak oleh para penculik. Ini bisa dilihat dari plakat tempat dimana Jendral Ahmad Yani terjatuh dan lukisan yang masih terdapat bekas lubang peluru.

Ruang makan keluarga

Mini Bar
Beberapa koleksi cangkir
Televisi


Foto & Piagam Jendral Ahmad Yani

Plak tempat Jendral Ahmad Yani jatuh & meninggal
Lukisan yang terdapat bekas lubang peluru
Dari ruangan makan, ruangan berikutnya adalah Ruang kamar tidur Jendral Ahmad Yani & kamar tidur Putra-Putri Jendral Ahmad Yani. Dikarenakan ada beberapa barang penting di kamar Jendral Ahmad Yani maka pengunjung dilarang mengambil gambar di ruangan tersebut. Adapun barang koleksi yang ada di kamar Jendral Ahmad Yani adalah barang-barang pribadi milik Jendral Ahmad Yani seperti kacamata, jam tangan, cincin, tongkat komando, pakaian serta barang-barang pribadi lainnya. Selain itu di ruangan ini terdapat senjata yang digunakan untuk membunuh Jendral S.Parman & Ade Irma Suryani (Putri dari Jendral Nasution korban G30S/PKI) beserta sisa pelurunya.

Sedangkan Ruangan Kamar Tidur Putra-Putri Jendral Ahmad Yani yang terdiri dari 2 kamar berisi berbagai macam koleksi seperti boneka-boneka hadiah dari Jendral Ahmad Yani ketika sedang bertugas keluar negeri untuk anak-anak perempuannya, pakaian putra-putri beliau serta perlengkapan-perlengkapan yang digunakan oleh putra-putri beliau. Selain itu juga ada beberapa foto-foto kenangan & lukisan dari putra-putri Jendral Ahmad Yani.

Kamar pertama putra-putri Jendral Ahmad yani

Koleksi boneka
Foto putra-putri Jendral Ahmad yani


Kamar kedua putra-putri Jendral Ahmad yani
Foto kenang-kenangan
Foto putra-putri Jendral Ahmad yani












Dari ruangan kamar tidur, ruangan berikutnya adalah Ruangan Khusus. Dinamai ruangan khusus karena selain sebagai ruang kerja ruangan ini merupakan tempat dimana Jendral Ahmad Yani memberikan brifing kepada para asistennya dalam menjalankan tugasnya. Adapun beberapa benda koleksi yang ada di ruangan ini seperti Lukisan "Subuh Berdarah" yaitu lukisan pada kejadian penculikan, foto-foto kenangan, beberapa lukisan dan furniture yang masih asli. Di pojok ruangan ini, Jendral Ahmad Yani terakhir duduk di kursi yang dilapisi bantal berkain merah, seusai menerima tamu pada malam hari sebelum peristiwa penculikan.

Ruangan Khusus
Furniture Ruangan Khusus
Beberapa koleksi cendramata












Dari ruangan khusus, ruangan berikutnya adalah Ruangan Santai. Di ruangan inilah biasanya Jendral Ahmad Yani bersantai untuk melepas lelah sambil duduk-duduk ditemani dengan secangkir teh hangat dan beberapa buku yang selalu dibacanya, sambil melihat anak-anaknya bermain ayunan di halaman rumah. Adapun koleksi yang ada di ruangan ini seperti foto-foto dokumentasi, kursi santai, aquarium minimalis, lukisan, stick golf dan beberapa cendramata lainnya.

Ruangan Santai
Peralatan golf milik Jendral Ahmad Yani
Beberapa koleksi cendramata
Ruangan terakhir yang Traveler kunjungi adalah Ruangan Ajudan. Sesuai dengan namanya, ruangan ini dulunya merupakan kamar kerja dari ajudan Jendral Ahmad Yani. Adapun beberapa koleksi yang ada di ruangan ini seperti beberapa foto-foto, koleksi buku dan koleksi tanda pangkat jabatan. 


Jam Buka & Harga Tiket


Museum ini buka dari jam 08.00 - 16.00 & sama seperti museum lainnya di Jakarta setiap hari senin & hari libur nasional tutup. Masuk Museum ini tidak mengenakan biaya alias gratis

Akses menuju ke sana


Akses paling mudah ke museum ini adalah menggunakan KRL comutter line. Traveler turun di Stasiun Sudirman dari sina Traveler bisa menggunakan jasa Ojek Online atau kalau pengen sedikit berolahraga juga bisa berjalan kaki. Kalau menurut saya letak museum tidak jauh dari Stasiun & akses pejalan kakinya juga enak karena banyak pohon rindang. So ingin bernapak tilas atau sekedar berkunjung & mempelajari sejarah...???? yuk kunjungi Museum Sasmitaloka Jendral Ahmad Yani


Mobil Pribadi Jendral Ahmad Yani

"Kenapa saya menjadi prajurit? karena saya patriot. Kenapa saya patriot? karena saya cinta tanah air."
(Jendral Ahmad Yani - 18 Januari 1965)